Vlog

Selasa, 01 Mei 2012

Konversi Institut Ke Universitas Bermotif Jatah Uang


ARJUNA NUSANTARA
(Pemimpin Redaksi Tabloid Mahasiswa Suara Kampus IAIN IB) 


Harian Haluan Selasa, 01 May 2012 01:33

Konversi IAIN Imam Bon­jol (IB) ke UIN (Universitas Islam Negeri) menjadi per­bincangan di tengah masya­rakat Sumbar. Kenapa tidak, kampus yang didirikan pada tahun 1966 dengan semangat ma­syarakat Sumbar, yang ingin mendirikan kampus Islam untuk pengembangan agama, tiba-tiba akan diubah oleh segelintir orang. Seperti judul tulisan Kiayi Sudarto di halaman opini Haluan, Rabu (25/4) mem­per­ta­nya­kan tujuan konversi sesuai judul­nya “Ada 
Apa di Balik Kon­versi IAIN Menjadi UIN”.

Setelah membaca tulisan tersebut, penulis sebagai mahasiswa yang berada di lembaga penyedia informasi di lingkungan Institut Aga­ma Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol, yaitu tabloid maha­siswa Suara Kampus, merasa tergerak untuk me­­­nangga­pinya. Penulis ingin memberi jawaban secara terang-tera­ngan ten­tang pertanyaan Kiayi Sudarto yang tertera di judul tulisannya.

Isu konversi ini sudah diangkat, yakni sejak masa kepemimpinan Sirajudin Zar. Namun, karena be­berapa halangan, keinginan itu belum terwujud hingga periode kepe­mimpinannya habis. Sekarang, cita-cita itu dilanjutkan oleh rektor baru Prof Dr H Makmur Syarif SH, Mag, yang dilantik 12 Juli 2011 lalu.

Konversi IAIN menjadi UIN, memang mengandung misi komersial. Secara jelas, Makmur Syarif mengungkap­kan kepada Suara Kampus dalam beberapakali wawanca­ra, bahwa IAIN IB dirubah menjadi UIN agar kampus menadapat anggaran lebih besar. Karena, universitas anggarannya lebih besar ke­tim­bang sekolah tinggi atau institut.
Dalam beberapa kesem­patan, rektor yang berlatar hukum ini menjelaskan, de­ngan dana yang lebih besar, IAIN bisa dibangun dengan lebih baik lagi. Dia men­contohkan dengan IAIN yang telah menjadi UIN, bangu­nannya bagus-bagus. Dari pandangan demikian, jelas sekali, tujuan rektor ini ada­lah penampilan. Dengan dana yang mencapai ratusan miliar itu, akan banyak proyek. Dan orang-orang yang biasa meng­uasai proyek IAIN IB akan kenyang dalam pembangunan kampus megah di Sungai Bangek, Lubuak Minturun, Padang tersebut. Menurut Kepala Biro IAIN IB Amrul Wahdi, pembangunan tersebut akan menghabiskan dana Rp400 miliar lebih.


Terancam Pendidikan Agama Hilang
Dana sebanyak itu akan dibantu oleh IDB (Islamic Development Bank) dengan mengajukan proposal terlebih dahulu. Jika proposal tersebut dikabulkan, maka kampus tiga untuk UIN akan dibangun di lahan sekira 300 hektare. Dalam cerita tokoh konversi ini, di lahan seluas itu akan dibangun kampus ideal. Leng­kap dengan rumah pegawai, kolam renang, asrama, arena olahraga, dan penunjang lain­nya. Namun, itu masih seke­dar rencana.

Dalam target rektor, UIN Imam Bonjol berdiri di ta­hun 2013. Sekarang, tim konversi IAIN ke UIN sibuk memper­siapkan syarat se­buah UIN. Seperti jumlah mahasiswa harus 10 ribu, ada fakultas umum seperti fakultas eksak, IPA, sosial, psikologi dan lainnya. Na­mun, semua syarat itu be­lum terpenuhi. Data ter­akhir, mahasiswa IAIN IB baru mencapai 7019.

Keluar dari kesiapan IAIN menjadi UIN, pada tahun 2013, masyarakat Sumbar bersiap-siap saja kehilangan kampus Islami IAIN Imam Bonjol yang sarat dengan pendidikan Islam. Kampus tersebut akan diganti dengan UIN. UIN yang telah kita lihat, secara nyata mulai menghapus budaya Islam di kampusnya. Seperti budaya berpakaian, pergaulan dan pendidikan tentunya. Di UIN yang telah berdiri, mahasiswi boleh memakai celana, bebas bergandeng tangan antara lawan jenis, dan pendidikan agama dikurangi.

Mata kuliah agama, sudah mulai dikurangi porsinya dari beberapa tahun ini. Kalau penulis tuliskan satu per satu mata kuliah dimaksud, terlalu banyak dan panjang, tapi yang pasti, pengurangan jumlah SKS (Sistim Kredit Semester) pelajaran agama di IAIN IB, benar adanya.

Kekhawatiran yang mun­cul, UIN akan melahirkan sarjana yang minus penge­tahuan agama, dan minus budaya Islaminya. Semaju apapun zaman, kita di Minang­kabau harus tetap berpegang teguh pada falsafah “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah”.

Kecemasan semacam itu ditanggapi oleh pejuang kon­versi dengan alasan konversi adalah demi kemajuan ilmu dan cita-cita siswa Mad­rasah Aliyah (MA). Rektor menga­takan, UIN bisa me­wujudkan cita-cita siswa sekolah agama yang ingin menjadi dokter, arsitek, ahli pertanian dan lainnya. Ka­lau seperti itu niatnya, mulia sekali.

Menurut penulis, jika niatnya untuk menciptakan lulusan MA menjadi sarjana umum, tentunya, UIN akan bersaing dengan Unand, UNP, Politeknik dan kampus lain­nya yang telah ter­per­caya. Meski dipaksakan juga, tentu UIN akan membayar dosen Unand dan kampus lain untuk mengajar. Karena UIN Imam Bonjol belum punya tenaga pengajar mata kuliah umum tersebut. Se­karang saja, beberapa mata kuliah umum di Fakultas Tarbiyah, masih membayar dosen UNP. Menu­rut penuturan mahasiswa Tarbiyah, pernah terjadi kasus, mahasiswa Prodi Mate­matika, belum ujian semester ketika kalender akademik telah libur semester. Ini disebabkan, materi kuliah belum lengkap karena dosen­nya yang didatangkan dari UNP jarang masuk, jarang masuk barangkali karena gajinya belum dibayar.
Keluar dari permasalahan di atas, konversi UIN sebe­narnya ditentang oleh salah satu tokoh pendiri IAIN Imam Bonjol Prof Dr Amir Syari­fuddin. Dia mengatakan kepa­da Suara Kampus, “Sa­ya tidak setuju jika IAIN IB dirubah jadi UIN. Sebagai orang yang ikut memper­juangkan pendirian IAIN, saya merasa perubahan ini belum tepat. Jika ada yang lain untuk diperbaiki kenapa tidak itu saja yang diper­baiki? Kenapa harus ini yang dikerjakan. Jangan kita hanya mencari popularitas dengan merubah IAIN jadi UIN, tapi rubah atau per­baiki bagian dalam dari IAIN ini dahulu.” (Suara Kampus, edisi 119).

Problem Sejak 23 Tahun Lalu
Penulis setuju dengan Profesor Amir Syarifuddin. IAIN masih banyak ke­ku­rangan. Menurut sebuah do­kumen yang penulis temukan, yaitu kumpulan berita media tentang IAIN (IAIN-IB Pres, 1996) termasuk Haluan, pada tahun sekira 1980-an ada tiga masalah besar yang dihadapi IAIN IB. Masalah tersebut, masih belum selesai sampai saat ini. Artinya, masalah 20-an tahun lalu, masih belum selesai sampai sekarang. Dalam rundungan masalah tersebut, tiba-tiba IAIN IB akan di­rubah menjadi UIN. Ten­tunya, UIN akan lahir tidak normal.

Tiga masalah yang penulis maksud yaitu, pertama ku­rangnya tenaga edukatif (pe­ngajar; dosen), kedua ku­rangnya gedung perkantoran dan perkuliahan, dan ketigakurangnya koleksi buku per­pustakaan.
Masalah IAIN IB di usia 18 tahun silam, masih terlihat nyata di usia 56 tahun se­karang. Mari kita uraikan satu persatu. Jumlah dosen IAIN IB sekarang 359 tenaga secara keseluruhan. Dari jumlah itu, 21 Guru Besar dan 58 Doktor. Jumlah 359 itulah yang mengajar 7019 mahasiswa IAIN. Akibatnya, ada beberapa dosen yang mengampu dua sampai lima mata kuliah sekaligus.

Di samping itu, kurangnya gedung, baik perkantoran maupun perkuliahan sangat kentara. Rektorat, masih memakai gedung sementara di lingkungan Fakultas Syari’ah setelah gedung rek­torat dirubuhkan gempa 30 September 2009. Mesjid satu-satunya di kampus Islam terbesar Sumbar ini, sudah tak layak. Dinding dan tiang-tiangnya retak, berlubang, rapuh. Kemudian, mahasiswa juga kekurangan gedung ku­liah. Ada yang belajar di aula. Dan mahasiwa kadang, tak bisa kuliah karena lokal mereka dipakai mahasiswa lain. Artinya, lokal itu benar yang kurang. Sekarang, civitas akdemika –kecuali rektor- beraktifitas di gedung sisa gempa yang rapuh.

Terakhir, buku di pustaka dianggap masih kurang. Se­karang hanya tersedia 104.271 buku. Jumlah tersebut jika dibagi dengan 7019 ma­hasiswa, tiap mahasiswa hanya kebagian 14 buku. Miris.

Selain masalah klasik itu, ada seabreg masalah baru yang menimbulkan opini buruk mahasiswa terhadap kampus. Seperti jaket al­mamater mahasiswa ang­katan 2009 yang tak kunjung dibagikan, pegawai akademik yang tak mencerminkan ide­alnya pelayanan birokrat kampus islami dan beasiswa yang selalu telat sampai dalam hitungan tahun. Contoh di atas cukup mewakili ma­salah yang ada. Kalau di­tuliskan semua, khawatir akan menambah beban men­tal sosial bagi pejabat kampus ini.

Dari pemaparan di atas, semoga pembaca bisa menilai. Apa tujuan konversi, apa kemungkinan buruk dari UIN, dan apakah masalah IAIN sekarang serta pan­taskah IAIN dirubah jadi UIN yang berdiri di Ranah Minang ini?

1 komentar:

  1. sekarang tuh yang paling penting, renovasi masjid Al-Jamiah dulu.. ^o^

    BalasHapus