Oleh: Arjuna Nusantara
(Pemimpin Redaksi Tabloid Mahasiswa Suara Kampus)
![]() |
| Rekontruksi Pembunuhan. (Foto: Padang Ekspres) |
Korban pemalakan pelajar SMA Negeri 1 Gunung Talang, Kabupaten Solok pada hari Minggu (15/4), ditemukan tewas. Seperti diberitakan Singgalang, Kamis (19/4), korban yang bernama Afdhal Ebersa ditemukan tak bernyawa di lembah kawasan kaki Gunung Talang setelah tiga hari menghilang. Sementara, pelakunya masih misteri.
Peristiwa kriminal yang membuncahkan masyarakat setempat, membuktikan, kebun teh yang menjadi salah satu andalan pariwisata Sumbar, tidak aman. Pemalakan yang berakhir hilangnya nyawa remaja itu, bukan kali pertama kasus di perkebunan teh Kayu Jao terlepas dari motif tewasnya Afdhal. Menurut keterangan warga setempat beberapa bulan yang lalu, di area perkebunan banyak preman. Ada beberapa lokasi yang dikuasai mereka, sehingga pengunjung yang masuk ke sana menjadi target operasi preman urang awak itu.
Lokasi yang jauh dari jalan, atau agak di tengah dan di lembah-lembah perkebunan, merupakan tempat mereka beraksi. Pada umumnya, korban adalah pasangan muda-mudi. Karena, pasangan muda-mudi biasanya mencari tempat yang lengang dan jauh dari jangkauan orang lain.
Premanisme dan lokasi berpacaran
Premanisme dan lokasi berpacaran
Dari pemaparan di atas, muncul dua permasalahan, yaitu premanisme di tempat wisata dan kebiasaan pasangan remaja ke tempat sepi. Namun, tindak pemalakan takkan terjadi jika tak ada pasangan Adam-Hawa berduaan di tempat sepi yang dikenal dengan istilah berpacaran.
Namun, melihat perkembangan teknologi informasi dan pengaruh globalisasi, sepertinya budaya berpacaran akan menjadi hal yang wajar di Ranah “Adat Basandi Syara’, Syarak Basandi Kitabullah.” Secara nyata bisa kita saksikan. Di jalan raya, pinggir danau, pinggir laut, pinggir hutan, pinggir kali, bahkan di dekat masjid pun dijadikan tempat berpacaran.
Kasus penangkapan pasangan mesum tak terhitung lagi. Pasangan mesum atas rasa suka sama suka. Dari sekian banyak kasus mesum, bisa jadi ada orangtua takut dengan masa depan anaknya. Itu terbukti dengan bebasnya para remaja keluyuran dengan pasangannya baik di siang hari maupun malam. Baik di tempat ramai maupun tempat sepi.
Sebagian orangtua berpikir, kalau anaknya tertangkap mesum, nikahkan, kalau anaknya ketahuan hamil duluan, nikahkan.
Menikah seolah menjadi jalan keluar dari masalah maksiat itu. Tapi tak berpikir untuk mencegah agar anaknya tak terjerumus. Sebahagian ada yang beralasan, anaknya sudah dibentengi dengan pondasi agama. Tanpa disadarinya, semua orang mempunyai nafsu birahi yang tak jauh berbeda. Apalagi remaja yang masih labil. Ketika remaja tak dikontrol dengan baik, dia akan jadi bagian dari sederetan kasus mesum di negeri Islam ini.
Kasus mesum yang naik ke permukaan merupakan hasil penangkapan warga. Penangkapan pasangan mesum oleh warga biasanya di rumah, dalam mobil dan tempat umum. Bagi pasangan muda-mudi yang beraksi ditempat sepi, biasanya “dimakan” oleh preman. Artinya, mesum boleh lanjut asalkan memberikan barang berharga yang dimiliki kepada preman.
Sekarang, pemalakan semakin menjadi. Tak lagi di tempat sepi. Beberapa tempat wisata di Padang, dilakukan secara nyata. Bagi yang sudah berkunjung ke Pantai Padang, Pantai Pasia Jambak, Taman Imam Bonjol, dan tempat wisata lainnya, mungkin telah mengetahui. Di Pantai Padang, sepanjang bebatuan di bibir pantai, secara bergantian datang pemuda meminta uang dengan alasan yang berbeda. Mulai dari parkir, uang kebersihan, dan entah apalagi. Bagi pengunjung yang enggan mengeluarkan uang, berbagai bentuk ancaman keluar dari preman tersebut.
Dari kasus ini, kita menanyakan fungsi polisi pariwisata dan pemuda setempat dalam mengembangkan pariwisata Sumbar. Seperti laporan Singgalang, menurut polisi, salah satu pelaku pemalakan pada Afdhal yang ditemukan tewas, masih warga sekitar.
Dari pemaparan di atas, penulis menarik kesimpulan. Ada dua masalah sosial yang butuh perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Pertama, beberapa tempat wisata di Sumbar belum aman dari tindak anarkis preman. Kedua, berpacaran yang identik dengan perbuatan mesum, semakin bersemi di tengah remaja, dan itu ada yang dibiarkan oleh sejumlah orangtua.

kadang mereka ga ngapa2in tapi preman datang aja malakin, tu gimana??
BalasHapuswho knows??
yang kakak liat sih ya, preman cenderung mengarang2 cerita ttg apa yg "dilakukan" pasangan muda-mudi itu.
dan mreka yg pacaran pun susah menyangkal krn akan dianggap oleh orang lain upaya membela diri.
hahha..