Oleh: Arjuna Nusantara
(Pemimpin Redaksi Tabloid Mahasiswa Suara Kampus)
Tulisan ini terbit di Koran Singgalang Minggu
Indonesia merdeka lebih cepat dari pada Malaysia (Indonesia 17 Agustus 1945 dan Malaysia 31 Agustus 1957). Namun terlambatnya Malaysia merdeka dibanding Indonesia, bukan berarti Malaysia tertinggal dalam segi pembangunan, baik ekonomi maupun pendidikan. 1970-an, Indonesia tempat menimba ilmu bagi masyarakat Malaysia. Namun itu berbalik awal abad 20. Malaysia berhasil menyediakan pendidikan yang berkualitas dan menarik pelajar Indonesia.
Selain di bidang pendidikan, Malaysia mengalami pertumbuhan ekonomi yang berarti di bawah kepemimpinan perdana menteri keempat, Dr. Mahathir Mohamad. Pada periode ini, Malaysia mengalami kemajuan ekonomi dari ekonomi berbasis pertanian menjadi ekonomi manufaktur dan industri seperti; bidang computer dan elektronika rumahan. Pada periode ini juga, di Malaysia menjamur berbagai mega-projek. projek paling terkemuka adalah Menara Kembar Petronas (sempat menjadi gedung tertinggi di dunia), Sirkuit F1 Sepang, Multimedia Super Corridor (MSC), dan lainnya.
Sementara, Indonesia pada masa itu –dipimpin Soeharto- hanya terkenal dengan kasus korupsi di kalangan pejabat. Menurut Transparency International, Soeharto menggelapkan uang dengan jumlah terbanyak dibandingkan pemimpin dunia lain dalam sejarah dengan perkiraan 15–35 miliar dolar A.S. selama 32 tahun masa pemerintahannya.
Sesungguhnya tidak hanya Malaysia yang meninggalkan Indonesia dalam aspek perkembangan dan kemajuannya. Tapi masih banyak negara kecil dan miskin lainnya yang jauh lebih maju dibanding Indonesia yang dikenal tanah syurga, negeri yang subur dan kaya. Ironisnya, Indonesia belum bisa menyeimbangkan antara Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM). Buktinya, hamper semua hasil alam Indonesia di ekspor seperti; batu bara, biji besi, emas bahkan minyak kelapa sawit. Akhirnya, masyarakat hanya mencicipi siso-siso kuciang.
Banyak alasan dan pendapat tentang faktor Indonesia tertinggal oleh Malaysia. Salah satunya adalah faktor Negara penjajah. Indonesia dijajah oleh Belanda dan Jepang. Di samping itu, Malaysia dijajah oleh Inggris. Apakah negara penjajah yang menyebabkan negara jajahan bisa maju atau tidak?
Negara yang ingin maju adalah negara yang menjadikan pendidikan sebagai prioritas utamanya. Sanggup mengeluarkan biaya besar untuk kemajuan pendidikan. Mendukung program-program ilmiah dengan menyediakan sarana sesuai yang dibutuhkan. Langkah untuk mencapai kemajuan di bidang pendidikan adalah membentuk sistem pendidikan berkualitas.
“Saya cuma dua puluh hari di Kolej Universiti Insaniah (KUI), tapi saya mendapatkan ilmu seperti belajar satu semester di IAIN.” Ucap Rafi, salah satu peserta studi banding mahasiswa komunikasi penyiaran Islam IAIN IB Padang ke Malaysia. “Kalau boleh saya membandingkan, KUI mempunyai sistem yang bagus, kalau sarana dan pra-sarana tidak jauh berbeda antara IAIN IB Padang dan KUI”, lanjutnya.
Seperti yang dijelaskan Rafi kepada penulis, KUI menerapkan sistem praktek yang lebih dominan. Teori dasar disampaikan di dalam kelas, selanjutnya teori pendukung disampaikan dalam praktek. Sehingga teori yang seharusnya disampaikan dalam satu semester bisa dikuasai dalam waktu yang relatif singkat.
Ruang kelas tidak dibuat untuk kapasitas 40 orang, tapi cukup untuk lima sampai sepuluh orang saja. Kejenuhan dalam kelas diredakan dengan suguhan musik-musik yang membuat peserta didik merasa fresh dan di selingi dengan intermezo yang mendidik sehingga proses belajar tidak bergaya militan.
“Kalau sarana, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) jauh lebih mewah dibanding Universitas yang ada di Indonesia,” kata Welhendri Azwar, mahasiswa program Doktor di UKM asal Sumbar. “Ketika kita masuk ke perpustakaan UKM, maka kita tidak akan menemukan pegawai pustaka. Karena, pustakanya memakai teknologi serba canggih. Pegawai pustaka hanya akan ditemukan di pustaka jika terjadi masalah,” tambahnya.
Malaysia melakukan itu bisa jadi mereka sadar akan pentingnya pendidikan. Namun kita juga harus menghargai pemerintahan Indonesia yang telah memperjuangkan kemajuan pendidikan di Indonesia meski masih ada oknum yang korupsi dana yang di alokasikan untuk pendidikan.
Pakar pendidikan, Dr Karnadi Msi dari Universitas Negeri Jakarta mengatakan, dalam kurun 13 tahun justru terjadi pembengkakan angka putus sekolah. "Jika pada 1996 hanya terjadi 1,7 juta siswa putus sekolah, pada 2009 lalu angkanya menjadi 11,7 juta siswa. Angka ini cukup memprihatinkan," (banjarmasinpost.co.id)
Angka di atas membuktikan bahwa pendidikan Indonesia belum merata. Jumlah anak putus sekolah yang terbilang besar itu di antara penyebabnya adalah ekonomi. Meski pemerintahan sudah memprogramkan sekolah gratis untuk 9 tahun, namun kenyataannya itu tidak bisa mecapai sasaran yang diinginkan. Ada masalah lain dibelakang itu. Pemerintah menyediakan sekolah gratis mulai dari SD sampai SLTP. Di lapangan masih ada murid yang mesti mengeluarkan biaya untuk operasi tertentu di sekolah yang tidak kalah besar jumlahnya dengan biaya sumbangan wajib sebelum adanya sekolah gratis (dana BOS).
Jika yang dituju program sekolah gratis 9 tahun adalah anak-anak yang memang miskin, artinya mereka harus memenuhi kebutuhan hidup sendiri, itu juga akan menemukan masalah. Anak seperti ini akan memilih tidak sekolah meski gratis dengan alasan, sekolah menganggu waktu mereka untuk mencari nafkah demi kebutuhan dan kelansungan hidup. Dan bukan hal yang mustahil bagi pemerintah Indonesia untuk menyekolahkan anak terlantar dan tidak mampu dengan sistem boarding school, gratis tentunya. Dengan boarding school, anak-anak itu bisa dilatih dengan keterampilan-keterampilan yang sifatnya komersil. Dengan begitu, pendidikan akan dirasakan oleh semua anak di Indonesia.
Jika pendidikan sudah maju, bukan hal yang mustahil Indonesia bisa sejajar berdiri dengan negara-negara maju lainnya. Dan kekurangan dana bukanlah alasan yang tepat bagi pemerintah untuk menyediakan sarana dan pelayanan yang berkualitas dalam memajukan pendidikan Indonesia, karena seorang pegawai Dirjen pajak seperti Gayus, bisa mendapatkan uang lebih dari 74 M sebagai pertanda Indonesia itu Negara kaya.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar